Cara Menghitung Pajak Usaha Kecil

Cara Menghitung Pajak Usaha Kecil

Banyak masyarakat Indonesia yang memiliki usaha kecil untuk sampingan. Selain bekerja di kantor atau pabrik, beberapa diantaranya juga memiliki usaha sampingan diluar pekerjaan tetap. Misalnya yang saat ini sedang booming yaitu menjadi supir atau ojek online. Selain itu, yang lebih klasik adalah membuka toko kelontong, berjualan baju atau barang lain secara online, hingga berjualan kue di saat menjelang lebaran.

Selain untuk membuang rasa jenuh karena rutinitas pekerjaan, membuka usaha sampingan juga bisa menambah penghasilan dengan jumlah yang lumayan. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah bila usaha sampingan tersebut ditekuni.

Namun, ada pertanyaan yang terbesit bagi mereka yang memiliki penghasilan tambahan dari usaha sampingan tersebut. Yaitu mengenai pajak penghasilan atas hasil usaha. Apakah usaha mereka termasuk usaha yang kena pajak atau tidak.

Peraturan Pemerintah Mengenai Pajak Usaha Kecil

Sebenarnya, pada bulan Juli 2018 lalu pemerintah telah menetapkan peraturan baru bagi pelaku usaha kecil yaitu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018. Isinya adalah mengenai tarif pajak penghasilan atas hasil usaha bagi pelaku usaha kecil dan beberapa aturannya.

Dalam peraturan tersebut, pemerintah telah menurunkan tarif pajak menjadi 0,5% dari yang sebelumnya 1%. Ada beberapa kriteria pelaku usaha yang dapat menggunakan tarif pajak setengah harga tersebut, yaitu :

  • Pengusaha yang memiliki penghasilan kotor (dari hasil usahanya) di bawah 4,8 Miliyar rupiah dalam satu tahun. Jika diatas angka tersebut, maka usaha tersebut sudah bukan termasuk usaha kecil.
  • Pelaku usaha wajib membuat pembukuan atas keuangan usahanya. Hal ini agar petugas dapat mengontrol secara mudah bagi pelaku usaha yang dapat menikmati tarif pajak setengah persen.
  • Hanya dapat menggunakan tarif setengah persen selama 3 tahun jika usaha yang dijalankan berupa perseroan terbatas. Setelah itu, kembali membayar pajak dengan tarif normal.
  • Pelaku usaha perorangan (usaha milik pribadi dan bukan group) hanya bisa menikmati tarif setengah persen selama 7 tahun.
  • Apabila usaha milik bersama, misalnya seperti firma dan koperasi, maka hanya dapat menggunakan tarif 0,5% selama 4 tahun.

Cara Menghitung Pajak Usaha Kecil

Jadi, hitung omzet hasil usaha dalam satu bulan sebelum memulai menghitung pajak yang harus dibayarkan. Jika syarat untuk dapat menggunakan tarif 0,5% adalah memiliki omzet kurang dari 4,8 Milyar, maka bagi dengan 12 untuk mengetahui maksimal omzet tiap bulannya. Omzet maksimal tiap bulan bagi pengusaha yang dapat menggunakan tarif pajak 0,5% adalah Rp 400.000.000.

Jika sudah mengetahui omzet tiap bulannya, maka Anda dapat menghitung pajak yang harus dibayarkan. Apakah menggunakan tarif 1% atau 0,5%.

Kembali ke pertanyaan awal yaitu apakah wajib membayar pajak penghasilan atas hasil usaha jika usaha yang dimiliki adalah usaha sampingan. Tentu saja jawabannya adalah wajib. Tetapi pembayaran pajak ini berbeda dengan pajak penghasilan atas pekerjaan tetap (sebagai karyawan). Maka dari itu, catat dengan benar omzet hasil usaha sampingan Anda. Jika perlu buatlah pembukuan.

Berikut ini contoh menghitung pajak penghasilan atas penghasilan hasil usaha :

Ibu Rina merupakan seorang manager di sebuah bank. Ia memiliki toko kue yang dijaga oleh satu orang karyawan. Omzet toko kue pada Januari 2019 mencapai 5 juta rupiah. Ibu Rina dapat menggunakan tarif 0,5% untuk membayar pajak. Perhitungannya sebagai berikut :

Pajak     = Omzet x tarif pajak

= 5.000.000 x 0,5%

= 25.000

Jadi, Ibu Rina harus membayarkan PPh final sebesar 25.000 ke kantor pajak sebelum 15 Februari. Atau untuk lebih mudah dapat dibayarkan melalui e-billing. Sangat mudah dan cepat. Semoga informasi mengenai cara menghitung pajak usaha kecil ini dapat membantu Anda.

Mau Jualan Cepat dan Aman? Gunakan Beepos!
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.